JAKARTA– Sejumlah berita ekonomi menjadi sorotan publik pada Jumat (24/10). Mulai dari rincian utang proyek Kereta Cepat Whoosh yang membengkak hingga harga emas Antam yang kembali melesat naik, menggambarkan dinamika ekonomi nasional yang penuh tantangan.
1. Biaya Proyek Whoosh Bengkak Jadi Ratusan Triliun
Baca Juga: COO Danantara Dony Oskaria Pastikan Tim Negosiasi Utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung Segera Berangkat ke China Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali menuai perhatian. Meski telah beroperasi penuh sejak 2 Oktober 2023, sorotan kini tertuju pada rincian pembiayaan dan total utangnya.
Sebagai proyek strategis nasional (PSN), Whoosh disebut menelan biaya jauh di atas estimasi awal, dengan sebagian besar pendanaan bersumber dari pinjaman luar negeri. Pembengkakan biaya ini menimbulkan kekhawatiran soal efektivitas proyek dan kemampuan pengembalian investasi di masa mendatang.
2. BI Rate Turun, Bunga Kredit Tak Kunjung MenyesuaikanBank Indonesia (BI) mencatat penurunan suku bunga acuan atau BI rate hingga 150 basis poin, ke level 4,75 persen. Namun, transmisi kebijakan moneter tersebut belum sepenuhnya terasa di sektor perbankan.
Bunga kredit perbankan masih relatif tinggi, menandakan lambatnya penyesuaian dari industri keuangan terhadap pelonggaran moneter yang diharapkan dapat mendorong konsumsi dan investasi.3. Asosiasi Perhiasan Usul Pajak Hanya di Produsen
Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) menyampaikan usulan kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa agar pungutan pajak perhiasan hanya dikenakan di tingkat produsen.APPI menilai, kebijakan pajak berlapis yang berlaku saat ini berpotensi menekan harga jual dan mengurangi daya saing produk perhiasan nasional di pasar domestik maupun ekspor.
4. Harga Emas Antam Naik Rp33 Ribu, Pulih dari Tren Turun
Setelah sempat melemah dalam beberapa hari terakhir, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menguat tajam. Berdasarkan data perdagangan di Butik
Emas Antam, harga logam mulia itu melonjak Rp33 ribu per gram.
Kenaikan ini mencerminkan respon pasar terhadap pelemahan dolar AS dan meningkatnya permintaan emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.5. BI Jaga Rupiah di Tengah Tekanan Global
Di sisi lain, Bank Indonesia terus mengupayakan stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai kebijakan intervensi dan koordinasi lintas sektor. BI mengklaim rupiah kini relatif stabil meski tekanan eksternal, seperti penguatan dolar dan ketidakpastian geopolitik, masih membayangi.