JAKARTA — Nilai tukar rupiah berpeluang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 17 Oktober 2025.
Penguatan ini dipicu oleh melemahnya dolar AS yang tertekan oleh sentimen dovish dari sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed) serta meningkatnya kekhawatiran mengenai potensi penutupan pemerintahan (shutdown) di AS.
Mengutip data Bloomberg, pada perdagangan Kamis, 16 Oktober 2025, kurs rupiah spot ditutup melemah tipis 0,03 persen ke level Rp16.581 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) tercatat turun 0,02 persen menjadi Rp16.580 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.571 per Dolar AS, Sentimen Dovish The Fed Jadi Angin Segar Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tren pelemahan dolar AS masih akan berlanjut, sehingga memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak positif pada akhir pekan ini.
"Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS yang terus tertekan menyusul beberapa pejabat The Fed yang kembali bernada dovish. Shutdown dan tensi dengan China juga ikut menekan dolar AS," ujar Lukman kepada VOI, Jumat (17/10).
Selain faktor eksternal, pelaku pasar disebut masih menunggu rilis data realisasi investasi dan kepastian mengenai stimulus ekonomi dari pemerintah. Meski demikian, Lukman menegaskan bahwa pengaruh global masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
"Untuk saat ini, faktor eksternal lebih berperan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah," imbuhnya.
Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.500 hingga Rp16.600 per dolar AS sepanjang perdagangan Jumat.
Sementara itu, pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan hubungan dagang antara AS dan China, yang kembali memanas setelah munculnya isu hambatan impor di sektor teknologi.
Ketegangan tersebut dikhawatirkan memperburuk prospek ekonomi global, sekaligus menambah tekanan terhadap dolar AS.*
(vo/M/006)