JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini, Senin (13/10/2025), diperkirakan masih berpotensi melemah.
Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar atas kemungkinan eskalasi perang dagang antara China dan AS.
Pada penutupan perdagangan Jumat (10/10/2025), rupiah spot tercatat melemah tipis 0,01 persen ke posisi Rp16.570 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah ditutup turun 0,30 persen ke level Rp16.585 per dolar AS.
Baca Juga: Polda Aceh Bongkar Jaringan Perdagangan Harimau Sumatera Terbongkar, Satu Pelaku Diciduk di Nagan Raya Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah kemungkinan berlanjut pada perdagangan hari ini seiring meningkatnya ketidakpastian global.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi perang dagang China-AS," ujar Lukman di Jakarta, Senin (13/10).
Menurut Lukman, meskipun indeks dolar AS sempat mengalami penurunan tajam setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif impor terhadap China hingga 100 persen, sentimen terhadap mata uang negara berkembang masih negatif.
"Dolar indeks memang turun cukup besar setelah Trump mengancam menambah tarif 100 persen kepada China. Namun, mata uang yang sensitif terhadap kebijakan tarif dan kondisi ekonomi China — seperti rupiah dan mata uang emerging market lainnya — tetap berisiko tertekan," jelasnya.
Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp16.500 hingga Rp16.650 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/10).
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut apabila tensi perang dagang terus meningkat dan pelaku pasar memilih aset-aset safe haven seperti dolar AS.
Namun, stabilitas nilai tukar juga bergantung pada langkah intervensi Bank Indonesia dalam menjaga volatilitas di pasar valas.*
(vo/mt)