MEDAN — Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan hari ini, Selasa, 7 Oktober 2025.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah berada di posisi Rp16.579 per dolar AS, naik 0,02% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat 0,11% ke level 98,21, di tengah meningkatnya ekspektasi pasar global terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) akhir bulan ini.
Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat ke Level 8.159, Saham PGEO, PGAS hingga BBRI Jadi Penopang Sejumlah mata uang utama kawasan Asia-Pasifik dibuka bervariasi pagi ini.
Yen Jepang terpantau melemah 0,09%, dolar Hong Kong stagnan, dan dolar Singapura turun tipis 0,01%.
Sebaliknya, dolar Taiwan menguat 0,54%, sementara won Korea Selatan terkoreksi 0,12%.
Peso Filipina mencatatkan kenaikan 0,18%, rupee India turun 0,01%, yuan China naik 0,01%, baht Thailand melemah 0,29%, dan ringgit Malaysia naik tipis 0,02%.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dan cenderung ditutup melemah di kisaran Rp16.530 hingga Rp16.580 hari ini. M
enurutnya, penguatan indeks dolar AS dipicu oleh ekspektasi tinggi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 28–29 Oktober 2025.
"Pasar semakin yakin bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, sehingga dolar kembali menguat terhadap sebagian besar mata uang utama," kata Ibrahim dalam pernyataan tertulis, Senin (6/10/2025).
Selain faktor moneter, ketidakpastian politik di Amerika Serikat juga turut menjadi perhatian.
Pemerintah federal AS kembali mengalami shutdown setelah Senat gagal menyetujui proposal pengeluaran anggaran, memperpanjang kebuntuan hingga pekan depan.