JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meluapkan kekecewaannya terhadap PT Pertamina (Persero) yang hingga kini belum juga membangun kilang minyak baru sejak krisis moneter 1998.
Ketiadaan kilang anyar ini dinilai berkontribusi pada membengkaknya belanja impor bahan bakar minyak (BBM) dan subsidi energi yang terus membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahun.
"Sejak krisis sampai sekarang tidak ada kilang baru. Kalau bapak ibu ketemu Danantara lagi, minta Pertamina bangun kilang baru," tegas Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Selasa (30/9/2025).
Baca Juga: Wartawan di Paluta Nyaris Jadi Korban Kekerasan Diduga Gara-gara Ganggu Sindikat “Kencing Minyak” Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor minyak mentah Indonesia pada Juli 2025 mencapai US$786 juta, naik 34,92% dibandingkan bulan sebelumnya.
Impor hasil minyak, termasuk BBM, juga meningkat 5,38% secara bulanan menjadi US$1,72 miliar.
Secara kumulatif, sepanjang Januari–Juli 2025, impor minyak mentah mencapai US$4,96 miliar, sementara hasil minyak mencapai US$13,41 miliar.
Meski ada penurunan tahunan, lonjakan bulanan menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap pasokan luar negeri belum juga membaik.
"Pertamina malah beli BBM dari Singapura, padahal kita punya kapasitas dan sumber daya untuk produksi sendiri," kritik Purbaya.
Purbaya mengungkap, sejak bertugas di Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi pada 2018, ia sudah menyarankan pembangunan kilang baru bekerja sama dengan perusahaan asal China.
Namun usulan itu ditolak oleh Pertamina dengan alasan "overkapasitas".
"Waktu itu saya kaget. Overkapasitas apa? Ini bukan logika bisnis yang sehat," kata Purbaya heran.
Saat ini, anak usaha Pertamina, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengoperasikan enam kilang dengan total kapasitas pengolahan sekitar 1 juta barel per hari.