JAKARTA - Badan Pangan Nasional (
Bapanas) atau National Food Agency (NFA) tengah mengevaluasi peredaran beras khusus di ritel modern yang selama ini dijual dengan harga cukup tinggi. Evaluasi ini dilakukan sebagai langkah pemerintah untuk menjamin keterjangkauan harga dan ketersediaan beras bagi masyarakat.Dalam Rapat Koordinasi Peredaran Beras Khusus di Kantor NFA, Jakarta (12/9), Kepala
Bapanas Arief Prasetyo Adi menekankan pentingnya transparansi dalam struktur biaya produksi beras khusus, seperti beras fortifikasi dan biofortifikasi.
Baca Juga: Bapanas Evaluasi Harga Beras Khusus di Ritel Modern, Dorong Harga Terjangkau dan Pasokan Stabil "Biaya produksi beras khusus, tolong tidak terlalu tinggi. Kita perlu bedah cost structure-nya agar harga di produsen dan ritel tetap wajar. Saya minta beras khusus ini nantinya pakai konsep ELDP – Everyday Low Price – karena kita bermain di volume," ujar Arief melalui keterangan resminya, Sabtu (13/9).Arief juga mendorong para produsen beras khusus untuk menonjolkan keunggulan produk mereka, seperti rendah glikemik atau bebas gluten, agar masyarakat semakin memahami nilai tambah dari produk tersebut.Selain itu, ia mengingatkan ritel modern agar memastikan beras khusus yang dijual sudah lolos uji laboratorium dan sesuai standar mutu. Pemerintah juga menargetkan peningkatan pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke ritel modern, yang dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET)."Beras premium tolong diisi kembali. Jangan semua bergeser ke beras khusus dan meninggalkan premium. Kita semua harus bantu masyarakat," tegas Arief.
Bapanas menargetkan penyaluran 800 ribu ton beras SPHP hingga akhir 2025. Hingga 12 September, realisasi baru mencapai 356,6 ribu ton atau sekitar 23,78% dari target tahunan. Distribusi telah dilakukan melalui pasar tradisional, instansi pemerintah, dan kini terus diperluas ke ritel modern.