JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di level USD 124.000 atau sekitar Rp2 miliar pada Kamis, 14 Agustus 2025. Kenaikan ini menandai lonjakan signifikan sejak rekor terakhir pada pertengahan Juli 2025.
Lonjakan harga ini ditopang oleh kombinasi faktor makroekonomi dan fundamental pasar kripto. Inflasi tahunan Amerika Serikat tercatat stabil di 2,7% pada Juli, sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar 2,8%. Stabilitas ini memicu ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga pada pertemuan 17 September mendatang.
"Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan memberi sinyal pelonggaran kebijakan moneter, dan ini jadi pemicu kuat pergerakan aset berisiko seperti Bitcoin," kata Antony Kusuma, Vice President Indodax.
Dorongan Korporasi dan Arus Modal Global
Bukan hanya faktor makro, penguatan harga Bitcoin juga didorong oleh meningkatnya pembelian oleh perusahaan besar yang menempatkan Bitcoin sebagai bagian dari strategi treasury.
Perusahaan seperti MicroStrategy memimpin tren adopsi ini, mendorong persepsi Bitcoin bukan hanya sebagai instrumen spekulatif, melainkan aset strategis jangka panjang.
"Institusi besar kini menganggap Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan kebijakan moneter global," tambah Antony.
Euforia Pasar dan Risiko Koreksi
Meski outlook pasar terlihat positif, Antony mengingatkan agar investor tetap berhati-hati dan tidak terbawa euforia.
"Reli besar seperti ini sering kali diikuti koreksi tajam. Tanpa strategi keluar, investor bisa terjebak membeli di harga puncak," tegasnya.