JAKARTA — Bulan Ramadan selalu tampak datang lebih awal jika dilihat berdasarkan kalender Masehi.
Pergeseran ini membuat Ramadan yang pada suatu tahun berlangsung pada Maret, beberapa tahun kemudian bergeser ke Februari, Januari, dan terus bergerak melewati bulan-bulan lainnya.
Fenomena tersebut terjadi karena kalender Hijriah dan kalender Masehi menggunakan dasar perhitungan yang berbeda.
Baca Juga: Ancam Pakai Pisau, Pemuda 19 Tahun di Tanjab Timur Diduga Cabuli Tetangga - Terancam 12 Tahun Penjara Kalender Hijriah menggunakan peredaran Bulan sebagai dasar penanggalan.
Sementara kalender Masehi didasarkan pada peredaran Bumi mengelilingi Matahari.
Perbedaan sistem tersebut membuat Ramadan tidak memiliki tanggal tetap dalam kalender Masehi.
Setiap tahun, awal Ramadan bergeser sekitar 10 hingga 12 hari lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam kalender Islam atau kalender Hijriah, pergantian bulan mengikuti siklus Bulan. Kalender ini terdiri atas 12 bulan dalam satu tahun.
Satu bulan Hijriah berlangsung sekitar 29 atau 30 hari. Dengan demikian, satu tahun Hijriah memiliki sekitar 354 atau 355 hari.
Jumlah tersebut lebih pendek dibandingkan kalender Masehi yang umumnya terdiri atas 365 hari. Pada tahun kabisat, kalender Masehi memiliki 366 hari.
Artinya, terdapat selisih sekitar 10 hingga 12 hari antara satu tahun Hijriah dan satu tahun Masehi.
Selisih inilah yang menyebabkan Ramadan terus bergeser jika dibandingkan dengan kalender Masehi.