BANDA ACEH — Akhlak terpuji dan kerendahan hati menjadi cerminan utama seorang muslim dalam meniti kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ustadz Abrar Zim, S.Ag., M.H., dalam pengajian rutin Sabtu subuh di Masjid Tgk H. Jakfar Hanafiah, Kampus Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), Banda Aceh, Sabtu (1/8/2026).
Dalam ceramah bertajuk "Keutamaan Sifat Tawadhu", Ustadz Abrar Zim menjelaskan bahwa tawadhu atau sikap rendah hati lahir dari kesadaran mendalam bahwa seluruh nikmat—mulai dari ilmu, harta, hingga jabatan dan kedudukan—murni merupakan karunia Allah SWT.
Baca Juga: Ada 5 Hewan yang Boleh Dibunuh dalam Islam, Apa Saja? "Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik," ujar Ustadz Abrar mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Furqan ayat 63.
Ia menekankan bahwa seorang yang tawadhu tidak akan pernah merasa dirinya lebih baik ketimbang orang lain.
Sifat mulia ini mendorong seseorang untuk senantiasa menghormati sesama, terbuka menerima nasihat, serta berikhtiar memperbaiki diri.
"Tawadhu bukan berarti merendahkan diri, melainkan menempatkan diri secara proporsional dengan penuh rasa syukur dan keikhlasan," kata Ustadz Abrar.
Lawan dari sifat tawadhu adalah takabur atau kesombongan, yakni perasaan merasa paling mulia sehingga meremehkan orang lain dan menolak kebenaran.
Menurut Ustadz Abrar, ciri utama pribadi yang tawadhu adalah kelapangan dada dalam menerima kebenaran dari siapa pun, tanpa memandang usia, status sosial, maupun kedudukan.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Abrar memaparkan keutamaan besar bagi mereka yang mampu menjaga kerendahan hati.
Mengutip hadis riwayat Muslim, ia menyampaikan janji Rasulullah SAW bahwa Allah SWT akan meninggikan derajat siapa saja yang bersikap tawadhu.
"Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya," tutur Ustadz Abrar mengutip hadis Nabi Muhammad SAW.