JAKARTA – Anggapan bahwa bulan Safar identik dengan kesialan masih dipercaya sebagian masyarakat hingga saat ini.
Keyakinan tersebut membuat sejumlah orang menghindari berbagai aktivitas, seperti menikah, bepergian, hingga memulai usaha karena khawatir akan tertimpa musibah.
Namun, dalam ajaran Islam, keyakinan bahwa bulan Safar membawa kesialan tidak memiliki dasar.
Baca Juga: Zulhas Kebut Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis, Hasilnya Dilaporkan ke Prabowo dalam Sebulan Islam mengajarkan bahwa tidak ada waktu atau bulan tertentu yang secara khusus mendatangkan keburukan.
Setiap kejadian yang dialami manusia terjadi atas kehendak Allah SWT.
Dalam buku Doa dan Zikir Sepanjang Tahun karya H. Hamdan Hamedan, MA, dijelaskan bahwa kata Safar memiliki arti "sepi" atau "sunyi".
Nama tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada masa lalu yang meninggalkan kampung halaman untuk melakukan perjalanan atau peperangan sehingga rumah-rumah mereka tampak kosong.
Pada masa Arab jahiliah, bulan Safar pernah dianggap sebagai bulan yang membawa kesialan. Pandangan tersebut kemudian diluruskan oleh Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sesuatu membawa sial hingga menghalangi seseorang beramal), tidak ada kesialan karena burung hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari)
Islam Tidak Melarang Aktivitas di Bulan Safar
Islam tidak menetapkan larangan khusus selama bulan Safar.