JAKARTA – Di balik beratnya garis kehidupan di dunia, Islam memberikan kedudukan dan keutamaan tersendiri bagi hambanya yang kekurangan harta.
Dalam sejumlah literatur hadits, kaum fakir dan miskin diprediksi akan menginjakkan kaki di surga jauh lebih awal ketimbang kelompok orang kaya.
Salah satu pijakan kuat mengenai fenomena ini bersumber dari riwayat Abu Hurairah RA.
Baca Juga: Menag Ungkap Alasan Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Baru Peradaban Islam Dunia Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW memberikan estimasi waktu yang spesifik terkait selisih waktu masuknya kedua golongan ini ke dalam surga.
"Orang-orang fakir dari kaum muslimin masuk surga setengah hari, yaitu lima ratus tahun sebelum orang-orang kaya dari mereka," demikian sabda Rasulullah SAW.
Berdasarkan penelusuran Imam an-Nawawi dalam kitab An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim, riwayat serupa juga dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dengan status hadits hasan shahih.
Alasan logis di balik cepatnya proses ini dikupas secara mendalam oleh Imam Syamsuddin Al-Qurthubi dalam kitab At-Tadzkirah.
Karakteristik utama yang membuat orang fakir melenggang tanpa hambatan ke surga adalah ketiadaan harta benda yang perlu dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Dalam sebuah dialog teologis yang digambarkan dalam riwayat tersebut, tergambar jelas bagaimana proses interaksi antara malaikat penjaga surga dan kaum fakir yang taat.
Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Siapakah orang-orang yang pertama-tama masuk surga?"
Rasulullah SAW menjawab, "Orang-orang fakir mendahului yang lain menuju surga. Maka keluarlah beberapa malaikat dari dalam surga menemui mereka seraya berkata, 'Kembalilah kamu sekalian untuk dihisab.'
Tapi orang-orang fakir menjawab, 'Atas apa kami dihisab? Demi Allah, di dunia kami tidak dibanjiri harta, sehingga tidak ada yang kami genggam atau berikan. Kami juga bukan para pemimpin, yang harus adil atau zalim. Kami hanya kedatangan perintah Allah, maka kami menyembah-Nya, sampai maut datang kepada kami.'