ACEH BESAR – Tuha Peut Wali Nanggroe, Tarmizi M. Daud, menegaskan bahwa ibadah qurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan pada Hari Raya Idul Adha.
Lebih dari itu, qurban merupakan sarana untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah sekaligus memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Tarmizi dalam khutbah Jumat di Masjid Syuhada Gampong Neuhen, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Jumat, 22 Mei 2026, yang bertepatan dengan 5 Dzulhijjah 1447 Hijriah.
Baca Juga: Rupiah Kembali Loyo, Nyaris Tembus Level Rp17.700 per Dolar AS Menurut Tarmizi, dari sisi spiritual, qurban menjadi media bagi seorang muslim untuk membersihkan diri dari sifat kikir serta kecintaan yang berlebihan terhadap harta benda duniawi.
"Dengan berqurban, seorang muslim membuktikan kecintaannya kepada Allah lebih besar dibandingkan kecintaannya kepada harta benda," ujarnya dalam khutbah tersebut.
Selain memiliki dimensi ibadah, qurban juga mengandung nilai sosial yang sangat kuat.
Melalui pembagian daging qurban, masyarakat yang kurang mampu dapat ikut merasakan kebahagiaan Hari Raya Idul Adha.
Menurut Tarmizi, semangat berbagi dalam ibadah qurban mampu mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat solidaritas sosial.
"Kaum fakir dan miskin dapat ikut merasakan kebahagiaan Idul Adha sehingga tercipta harmoni sosial di tengah masyarakat," katanya.
Ia menambahkan bahwa qurban merupakan salah satu syiar Islam yang sarat dengan pesan kemanusiaan dan kebersamaan.
Tarmizi menjelaskan, secara bahasa kata qurban berasal dari bahasa Arab qarabah yang berarti dekat atau mendekatkan diri.
Dalam syariat Islam, qurban atau udhhiyah adalah penyembelihan hewan ternak tertentu pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik dengan niat beribadah kepada Allah SWT.