JAKARTA — Puasa Tarwiyah dan Arafah kembali menjadi amalan yang banyak dikerjakan umat Islam menjelang Idul Adha.
Namun, di tengah antusiasme tersebut, muncul pertanyaan mengenai hukum menggabungkan puasa sunnah dengan qadha Ramadan yang masih menjadi tanggungan sebagian umat.
Pembahasan soal penggabungan niat antara puasa sunnah dan qadha Ramadan kerap menjadi kajian dalam fikih puasa.
Baca Juga: Plh Wali Kota Tanjungbalai Hadiri Harlah YMPI ke-78, Dorong Penguatan Pendidikan Islam Para ulama memiliki perbedaan pandangan terkait hal ini, mulai dari yang membolehkan hingga yang menganjurkan pemisahan niat secara terpisah.
Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada 8 Zulhijah, sehari sebelum wukuf di Arafah.
Istilah Tarwiyah merujuk pada makna "membawa bekal air", yang berkaitan dengan kebiasaan jemaah haji pada masa lampau yang menyiapkan persediaan air sebelum menuju Arafah dan Mina.
Adapun puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Zulhijah dan memiliki keutamaan besar bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji.
Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, puasa Arafah disebut dapat menghapus dosa selama dua tahun, yakni satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya.
Meski demikian, sebagian riwayat tentang keutamaan puasa Tarwiyah dinilai lemah (dhaif) oleh para ulama.
Namun, sejumlah ulama tetap membolehkannya dalam konteks fadhailul amal atau keutamaan ibadah, selama tidak dijadikan dasar hukum utama.
Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah