JAKARTA – Tradisi menitip doa kepada jemaah haji masih banyak dilakukan masyarakat Muslim, terutama karena mereka dianggap sedang berada di tempat-tempat mustajab untuk berdoa di Tanah Suci.
Namun, praktik ini tetap memiliki adab yang perlu diperhatikan agar tidak membebani jamaah.
Dalam pandangan Islam, menitipkan doa kepada orang yang sedang menunaikan ibadah haji diperbolehkan, selama tidak disertai keyakinan bahwa selain Allah yang mengabulkan doa.
Baca Juga: Pemkab Asahan Gelar Upah-Upah Jemaah Haji 2026, Doakan Kelancaran Ibadah ke Tanah Suci Para ulama menegaskan bahwa doa tetap hanya ditujukan kepada Allah, sementara jemaah haji hanya menjadi perantara untuk turut mendoakan.
Dasar kebolehan ini juga merujuk pada riwayat sahabat, ketika Umar bin Khattab meminta Nabi Muhammad SAW untuk mendoakannya saat hendak beribadah.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Nabi bahkan menganjurkan untuk saling menyertakan doa antar sesama Muslim.
Namun demikian, pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, mengingatkan agar praktik titip doa tidak dilakukan secara berlebihan.
Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak memberikan daftar doa yang panjang kepada jemaah haji karena dapat mengganggu kekhusyukan ibadah mereka.
"Minta doa boleh, tapi jangan merepotkan. Cukup secara umum saja, tidak perlu daftar panjang," kata Buya Yahya dalam sebuah ceramah yang dikutip dari kanal Al Bahjah TV.
Ia menambahkan, semakin banyak titipan doa dari banyak orang, semakin besar pula beban yang harus dibawa oleh jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Karena itu, cukup menyampaikan permintaan doa secara sederhana, misalnya agar didoakan keselamatan atau dimudahkan untuk menyusul ke Tanah Suci.
Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang kerap menitipkan barang atau meminta oleh-oleh kepada jemaah haji.