JAKARTA — Istilah "Israel" dan "Bani Israil" kerap digunakan secara bergantian dalam percakapan publik.
Namun, keduanya memiliki makna yang berbeda secara mendasar, baik dari sisi sejarah, agama, maupun konteks modern.
Kesamaan nama sering memicu kesalahpahaman, terutama ketika isu politik di Timur Tengah dikaitkan langsung dengan narasi keagamaan dalam kitab suci.
Baca Juga: Prabowo, Polymath Man, dan Jalur Strategis Indonesia Padahal, para ahli menekankan pentingnya membedakan antara konsep genealogis dalam agama dan entitas politik modern.
Asal-usul Bani Israil
Dalam literatur Islam, Bani Israil merujuk pada keturunan Nabi Ya'qub 'alaihissalam.
Nama "Israel" sendiri merupakan gelar yang disematkan kepada Nabi Ya'qub, yang dalam sejumlah tafsir diartikan sebagai "hamba Allah".
Bani Israil merupakan bagian dari garis keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Ishaq. Dari keturunan ini lahir sejumlah nabi, di antaranya Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, hingga Nabi Isa.
Kisah Bani Israil banyak diabadikan dalam Al-Qur'an, terutama terkait perjalanan mereka dari penindasan Fir'aun hingga berbagai ujian keimanan.
Dalam konteks ini, penyebutan Bani Israil tidak bersifat tunggal—melainkan mencakup kelompok yang taat maupun yang melakukan pelanggaran.
Israel sebagai Negara Modern
Berbeda dengan konsep Bani Israil, Israel adalah sebuah negara modern di kawasan Timur Tengah yang berdiri pada 1948.