JAKARTA — Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Namun, sejarah masuknya Islam ke Nusantara tidak berdiri pada satu versi tunggal.
Para sejarawan mencatat adanya sejumlah teori yang menjelaskan asal-usul kedatangan Islam, mulai dari Gujarat, Persia, Arab, hingga Tiongkok.
Baca Juga: Mengapa Medan Identik dengan “Horas” Meski Berakar dari Kesultanan Deli? Ini Sejarahnya! Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia disebut berlangsung relatif cepat.
Sejumlah literatur menyebut peran penting para pedagang Muslim dari berbagai wilayah seperti Gujarat (India), Persia (Iran), dan Jazirah Arab dalam proses tersebut.
Hubungan dagang yang intens dengan masyarakat lokal menjadi pintu awal penyebaran agama Islam di kawasan ini.
Perbedaan pandangan di kalangan sejarawan kemudian melahirkan beberapa teori utama mengenai asal-usul Islam di Nusantara.
Teori pertama adalah teori Gujarat, yang dikemukakan oleh Snouck Hurgronje dan J. Pijnapel.
Teori ini menyebut Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 melalui wilayah Gujarat di India.
Bukti yang sering dikemukakan adalah batu nisan Sultan Samudera Pasai, Malik as-Saleh, yang memiliki corak khas Gujarat.
Selain itu, ajaran Islam bercorak tasawuf yang berkembang di Indonesia dinilai memiliki kemiripan dengan praktik keagamaan di India Selatan.
Teori kedua adalah teori Persia, yang dipopulerkan oleh Hoesein Djajadiningrat. Menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-12 melalui para pedagang Persia.