BANDA ACEH — Ramadhan telah berlalu, namun semangat ibadah yang tumbuh selama sebulan penuh diharapkan tidak ikut surut.
Hal ini disampaikan Ustazd Hermansyah Adnan dalam pengajian rutin di Masjid Tgk Jakfar Hanafiah, Kampus UNMUHA, Sabtu Subuh, 28 Maret 2026.
Dalam tausiyahnya, Hermansyah menekankan bahwa ukuran utama diterimanya amal bukan semata pada kuantitas, melainkan keberlanjutan.
Baca Juga: Bolehkah Puasa Sunnah di Hari Sabtu? Simak Penjelasannya Ia mengutip hadis riwayat dari Aisyah yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad selalu menjaga konsistensi dalam beribadah.
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit," ujarnya di hadapan jamaah.
Menurut dia, fenomena yang kerap terjadi adalah meningkatnya intensitas ibadah selama Ramadhan, namun menurun drastis setelahnya.
Padahal, nilai utama dalam ibadah justru terletak pada istiqamah atau konsistensi.
Qiyamul Lail dan Sedekah
Hermansyah menyoroti dua amalan yang dinilai paling layak dipertahankan setelah Ramadhan, yakni shalat malam (qiyamul lail) dan sedekah.
Ia menjelaskan, qiyamul lail memiliki keistimewaan karena dilakukan pada saat sebagian besar manusia terlelap.
Dalam kondisi tersebut, seorang hamba dianggap sedang "mengetuk pintu langit" melalui doa dan munajat.
"Ini bukan sekadar ibadah, tetapi juga sumber ketenangan jiwa," kata dia.