BANDA ACEH — Mudir Pondok Tahfizd Ihya'ul Qur'an (PTIQ) Blang Oi, Ustaz Abdurrahim Abu Zubaidah, mengajak umat Islam tidak hanya bersukacita di hari Idul Fitri, tetapi juga melakukan muhasabah atau evaluasi diri atas ibadah yang telah dijalani selama Ramadhan.
Dalam khutbah Idul Fitri di Masjid Asy-Syuhada Lampanah, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Sabtu (21/3/2026), Ustaz Abdurrahim menekankan pentingnya menjaga hati yang khauf (takut amal tertolak) sekaligus raja' (harap diterima oleh Allah).
Ia menyoroti perbedaan sikap para salafus shalih dengan sebagian umat saat ini.
Baca Juga: Ribuan Warga Banda Aceh Padati Pawai Takbir Idul Fitri 1447 H di Masjid Raya Baiturrahman "Dahulu para salaf bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, namun setelah Ramadhan berlalu, mereka menangis memikirkan apakah amal mereka diterima atau tidak," ujarnya, mengutip QS. Al-Mu'minun: 60.
Menurut Ustaz Abdurrahim, banyak umat kini lebih fokus pada aspek lahiriah Idul Fitri, seperti pakaian baru dan hidangan, sementara makna spiritual hari raya sering terabaikan.
Ia mencontohkan seorang ulama salaf yang menangis pada hari raya karena tidak yakin amalnya diterima Allah.
Lebih lanjut, ia menegaskan hakikat Idul Fitri sebagai momentum kembali kepada Allah, menjaga istiqamah, dan meningkatkan ketaatan.
Ia mengingatkan ciri kegagalan Ramadhan, termasuk meninggalkan shalat berjamaah, lalai membaca Al-Qur'an, dan kembali berbuat dosa.
Ustaz Abdurrahim juga mengajak umat Islam merenungkan kefanaan hidup, mengutip QS. At-Taubah: 82, "Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak," sebagai pengingat akan kehidupan akhirat.
"Jika Ramadhan telah mengubah kita menjadi lebih baik, itu tanda amal diterima. Jika tidak, segera kembali kepada Allah sebelum terlambat," pesannya.
Ia menutup khutbah dengan mengingatkan agar Idul Fitri dijadikan awal perubahan, bukan akhir ketaatan, karena Rabb Ramadhan adalah juga Rabb di bulan-bulan berikutnya.*