MEDAN – Lailatul Qadar bukan sekadar malam sunyi di penghujung Ramadan.
Malam yang digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai "lebih baik dari seribu bulan" ini menjadi momen kosmis di mana langit dan bumi seolah menipis, memberi kesempatan bagi hamba untuk meraih keberkahan luar biasa.
Merujuk pada buku Rahasia Puasa Ramadhan karya Yasin T Al Jibouri dan Mirza Javad Agha Maliki Tabrizi, malam ini ditandai turunnya malaikat dalam jumlah besar yang membawa kedamaian.
Baca Juga: Jelang Idulfitri, Disnaker Sumut Siapkan 7 Posko THR: Pekerja Bisa Laporkan Perusahaan Nakal Malaikat Jibril, dengan sayapnya yang legendaris—600 pasang, termasuk dua sayap yang membentang khusus pada malam ini—menjadi simbol rahmat Ilahi bagi umat manusia.
Turunnya Malaikat dan Panji Hijau
Dalam riwayat, Jibril diperintahkan Allah membawa malaikat beserta panji hijau ke bumi dan menancapkannya di puncak Ka'bah sebagai simbol kemenangan dan kemuliaan.
Hal ini tercantum dalam Surah Al-Qadr ayat 3-4:
"Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan."
Keberadaan malaikat juga dikaitkan dengan aktivitas spiritual umat manusia.
Mereka dikisahkan menyambangi orang-orang yang salat, berdzikir, dan berdoa, mengucapkan salam keselamatan, hingga mengaminkan doa hamba yang mengharap ridha Allah hingga fajar menyingsing.
Empat Golongan yang Terhalang dari Rahmat
Meski langit terbuka, tidak semua hamba memperoleh rahmat malam ini.