MEDAN – Hadis yang berbunyi "bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari kasturi di sisi Allah" kembali menjadi perbincangan.
Ustaz Adi Hidayat menekankan bahwa makna hadis tersebut tidak boleh dipahami secara tekstual semata, melainkan harus dilihat dari sisi spiritual dan moral puasa.
Dalam kajiannya, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih Bukhari.
Baca Juga: Balap Liar Dibubarkan, Patroli Gabungan Polres Binjai dan TNI Cegah Gangguan Kamtibmas Selama Ramadhan Kata "harum" dalam hadis bersifat majazi atau kiasan, yang menunjukkan pahala dan kemuliaan orang yang berpuasa di mata Allah, bukan aroma fisik mulut manusia.
"Orang yang berpuasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku. Menjaga diri dari ghibah, hinaan, dan kata-kata kotor adalah inti dari keutamaan puasa," jelasnya.
Banyak orang bertanya apakah hadis ini berarti dilarang menyikat gigi saat berpuasa.
Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa hadis tersebut tidak melarang kebersihan mulut. Menurut kajian fikih, membersihkan mulut tetap dianjurkan selama tidak membatalkan puasa.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, inti dari puasa adalah kemampuan seseorang menahan diri dari maksiat, perkataan buruk, dan perbuatan tercela.
Hadis bau mulut yang dibandingkan dengan kasturi menegaskan tingginya nilai pahala dari pengendalian diri dan akhlak yang baik.
Kasturi, pada masa itu, dikenal sebagai minyak wangi terbaik Jazirah Arab, sehingga perbandingan ini menunjukkan tingginya derajat keutamaan puasa di sisi Allah SWT.
Dari penjelasan Ustaz Adi Hidayat, umat Islam diingatkan bahwa keutamaan puasa tidak hanya soal menahan lapar dan haus.
Pesan moral utama adalah menjaga hati, lisan, dan perilaku agar pahala puasa menjadi wangi di sisi Allah.