ACEH BESAR – Puasa Ramadhan tidak hanya menahan diri dari makan, minum, dan syahwat, tetapi juga menjadi sarana untuk melatih hati dalam mengatur regulasi emosi dan perilaku.
Hal itu disampaikan Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si, IPU ASEAN Eng, dalam khutbah Jumat di Masjid Jamik Baitul Ahad, Kemukiman Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Jumat (20/2/2026), bertepatan dengan 2 Ramadhan 1447 Hijriah.
Prof. Agussabti menekankan bahwa puasa seharusnya menjadi latihan manajemen hati yang komprehensif, meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), dan membantu mengendalikan respon reaktif.
Baca Juga: Kapolda Aceh Turun Langsung, Jembatan Putus di Jeunieb Segera Dibangun "Puasa yang mengantar hamba pada jenjang taqwa adalah puasa hati. Semakin kita memahami maknanya, semakin kuat kemampuan kita mengelola qalbu, sehingga perilaku akan mencerminkan akhlak yang baik," katanya.
Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan amarah, ucapan buruk, dan menghindari penyakit hati seperti riya, ujub, takabur, dan hasad.
"Puasa adalah ibadah tersembunyi, di mana keikhlasan diuji karena hanya Allah yang mengetahuinya," jelasnya.
Dalam konteks sosial, puasa mengajarkan rendah hati. Sebagaimana tertulis dalam Surah Al-Furqan ayat 63, orang berpuasa seharusnya mampu menyapa orang jahil dengan salam, menunjukkan kesabaran dan pengendalian diri.
Prof. Agussabti menambahkan bahwa keberhasilan menjaga qalbu akan membawa keberuntungan, sesuai Firman Allah dalam Surah Asy-Syam ayat 9–10: "Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikannya jiwa itu; dan sungguh rugi orang-orang yang mengotorinya."
Puasa, kata Prof. Agussabti, harus dimaknai sebagai sarana transformasi diri, yang tidak hanya menahan hawa nafsu, tetapi juga membentuk karakter dan memperkuat spiritualitas. Dengan demikian, tujuan utama puasa, yaitu membentuk hamba bertaqwa, dapat tercapai.*
(dh)