JAKARTA – Menjelang awal bulan suci, ucapan "Marhaban Ya Ramadhan" kerap terdengar di berbagai kesempatan, mulai dari percakapan keluarga, ceramah keagamaan, hingga unggahan media sosial.
Namun, ucapan ini lebih dari sekadar sapaan; ia mengandung doa dan kegembiraan dalam menyambut bulan yang dimuliakan dalam Islam.
Secara bahasa, "marhaban" berasal dari bahasa Arab yang berarti selamat datang atau sambutan hangat, berakar dari kata rahb yang bermakna kelapangan atau keluasan. Kata "ya" merupakan kata seru, sedangkan "Ramadhan" adalah bulan kesembilan kalender Hijriah, bulan yang diwajibkan untuk berpuasa bagi umat Islam.
Baca Juga: Hari Down Syndrome Sumut 2026: Kahiyang Ayu Ajak Masyarakat Tingkatkan Dukungan Anak Berkebutuhan Khusus Dengan demikian, Marhaban Ya Ramadhan secara harfiah berarti "Selamat datang, wahai Ramadhan".
Lebih dari sekadar terjemahan literal, ucapan ini mencerminkan rasa syukur dan kebahagiaan bertemu kembali dengan bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan.
Al-Qur'an menyebut Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 185), menegaskan kemuliaannya. Menyambut Ramadhan dengan ucapan ini berarti siap memperbanyak amal, memperbaiki diri, dan mempererat hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia.
Di Indonesia, tradisi ini sudah menjadi bagian budaya.
Biasanya disertai permohonan maaf lahir dan batin, ucapan ini menjadi momen refleksi dan pembersihan hati sebelum berpuasa. Tradisi ini juga memperkuat nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan silaturahmi.
Marhaban Ya Ramadhan bukan sekadar kalimat pembuka bulan puasa, tetapi doa terselip dalam sapaan: semoga umat Muslim dipertemukan dengan keberkahan, dikuatkan dalam ibadah, dan kembali dalam keadaan lebih baik setelah Ramadhan.*
(k/dh)