JAKARTA – Bulan Ramadan selalu identik dengan salat malam yang khusyuk. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa salat yang dikenal sebagai Tarawih kini, pada awalnya bernama Qiyam Ramadan.
Istilah ini merujuk pada ibadah salat malam yang dilakukan untuk menghidupkan malam suci, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Menurut buku Al Wajiz fi Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq, pelaksanaan salat ini adalah sunnah. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Baca Juga: Jemaah Tarekat Naqsyabandiyah Kota Padang Gelar Salat Tarawih Pertama Malam Ini "Barang siapa mendirikan salat malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Al Jamaah)
Awal Mula Salat Tarawih
Sejarawan Islam mencatat, Nabi Muhammad SAW pertama kali menunaikan salat malam di Masjid Nabawi pada 23 Ramadan tahun kedua Hijriyah.
Awalnya, salat dilakukan secara berjamaah hanya beberapa malam, sebelum Nabi memilih untuk tidak mengimami jamaah karena khawatir hal itu dianggap wajib bagi umatnya.
Riwayat dari Aisyah RA juga menjelaskan jumlah rakaat salat Nabi SAW: 4 rakaat, dilanjutkan 4 rakaat dengan bacaan panjang, dan ditutup 3 rakaat witir, sehingga total 11 rakaat.
Munculnya Istilah "Tarawih"
Barulah pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, istilah Tarawih muncul secara resmi. Umar melihat para sahabat salat malam berpencar-pencar di masjid, lalu menyatukan mereka di bawah satu imam.
Ubay bin Ka'ab ditunjuk menjadi imam, dan jumlah rakaat disesuaikan menjadi 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir, mencatat sejarah pelaksanaan Tarawih berjamaah secara masif yang kita kenal saat ini.
Umar bin Khattab pun memuji keteraturan ibadah umat Islam yang semakin rapi dan tertib. Sejak itu, tradisi Tarawih berjamaah menjadi salah satu momen ibadah Ramadan yang ditunggu umat.