MEDAN — Bulan Syaban kerap disebut sebagai bulan yang "terjepit".
Letaknya yang berada di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadan, membuatnya sering luput dari perhatian umat Islam.
Padahal, dalam sejarah Islam, Syaban menyimpan sejumlah peristiwa penting yang menjadi tonggak syariat.
Baca Juga: Gubernur Sumut Bobby Nasution Tekankan Pelayanan Optimal untuk Jemaah Haji 2026: Utamakan Pelayanan, Bukan Dilayani Di bulan Rajab, umat Islam disibukkan dengan peringatan Isra Mikraj dan ibadah sunnah.
Sementara Ramadan menjadi puncak semangat ibadah. Adapun Syaban, meski tidak kalah mulia, justru sering dilupakan.
Hal ini sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Dawud dan An-Nasa'i.
Nabi menyebut Syaban sebagai bulan yang kerap diabaikan manusia, bukan karena tidak memiliki keutamaan, melainkan karena kelalaian umat dalam memaknainya.
Berbeda dengan kebanyakan orang, para salafus saleh justru memberi perhatian khusus pada Syaban.
Bulan ini dijadikan sebagai fase persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan.
Merujuk berbagai literatur klasik Islam, setidaknya terdapat tiga peristiwa besar yang menegaskan kemuliaan Syaban.
Turunnya Perintah Bersholawat
Mayoritas ulama tafsir menyebutkan bahwa perintah bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Ahzab ayat 56, diturunkan pada bulan Syaban.