ACEH BESAR– Wawasan lingkungan dalam perspektif Islam menekankan bahwa alam adalah ciptaan Allah yang wajib dijaga, dihormati, dan dilestarikan.
Kerusakan alam tidak hanya soal ekologi, tetapi juga persoalan moral dan spiritual, sehingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari ketakwaan seorang muslim.
Baca Juga: Wujudkan Zero Narkoba, Lapas Labuhan Ruku Gelar Tes Urine Pegawai dan Warga Binaan Hal ini disampaikan Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Ustaz Dr. H. Hasan Basri, MA, dalam khutbah Jumat di Masjid Baitul Maghfirah, Paya Tieng, Kecamatan Peukan Bada, pada 9 Januari 2026 bertepatan dengan 20 Rajab 1447 Hijriah.
Menurut Ustaz Hasan Basri, Islam mengatur hubungan manusia tidak hanya dengan Allah dan sesama, tetapi juga dengan alam.
Lingkungan hidup adalah amanah yang harus dijaga demi kelangsungan hidup generasi sekarang dan mendatang.
"Manusia adalah khalifah di muka bumi, bukan perusak. Kerusakan lingkungan sering terjadi akibat keserakahan dan kelalaian manusia sendiri," ujarnya, mengutip firman Allah dalam QS. Ar-Rum: 41.
Lebih jauh, ia menekankan prinsip keseimbangan dalam Islam.
"Jangan berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya alam. Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan," kata Hasan Basri, merujuk QS. Al-An'ām: 141. Prinsip ini mendorong penggunaan air, tanah, energi, dan hasil alam secara hemat, proporsional, dan berkelanjutan.
Selain itu, menjaga lingkungan juga bernilai ibadah. Setiap upaya melestarikan alam dicatat sebagai amal saleh.
Rasulullah bersabda, "Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau pohon, lalu dimakan manusia, burung, atau hewan, kecuali itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari dan Muslim)"Hadis ini menunjukkan, menjaga kelestarian lingkungan memiliki nilai spiritual yang tinggi dalam Islam," pungkas Ustaz Hasan Basri, yang juga aktif sebagai Pengurus Muhammadiyah Aceh.*
(dh)