JAKARTA – Setiap tahun, awal puasa Ramadan selalu bergeser jika dilihat dari kalender Masehi.
Hal ini disebabkan penanggalan Islam menggunakan kalender Hijriah, yang berpatokan pada peredaran Bulan, berbeda dengan kalender Masehi yang mengacu pada peredaran Matahari.
Satu tahun Hijriah hanya terdiri dari 354 hari, lebih pendek sekitar 10–11 hari dibanding kalender Masehi.
Baca Juga: Varian H3N2 Subclade K Terdeteksi di RI, Menkes: Penularan Cepat, Tapi Tidak Berbahaya Akibatnya, Ramadan selalu datang lebih awal setiap tahun.
Perbedaan sistem inilah yang membuat tanggal awal puasa tidak pernah tetap.
Di Indonesia, penentuan awal Ramadan juga dapat berbeda antar lembaga.
Pemerintah biasanya menggunakan metode pengamatan hilal (rukyatul hilal) dan hisab astronomi, mengacu pada kriteria MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura).
Sementara Nahdlatul Ulama (NU) memakai hisab imkanur rukyah, dan Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wujudul hilal melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Perbedaan metode ini kerap membuat selisih satu hari dalam penetapan awal puasa.
Berdasarkan kalender resmi Kemenag, awal Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, sedangkan Muhammadiyah menetapkan Rabu, 18 Februari 2026.
Umat Islam dianjurkan menunggu pengumuman resmi melalui sidang isbat untuk kepastian ibadah puasa.
Selain itu, fenomena menarik akan terjadi pada 2030, ketika umat Islam diperkirakan menjalani puasa Ramadan dua kali dalam satu tahun Masehi, akibat kalender Hijriah yang berada di dua tahun berbeda (1451 dan 1452 Hijriah).