MEDAN – Dalam ajaran Islam, hujan tidak hanya dipahami sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai rahmat dan tanda kekuasaan Allah SWT.
Air hujan menjadi sumber utama kehidupan bagi manusia, hewan, tumbuhan, serta keberlangsungan seluruh ekosistem di bumi.
Al-Qur'an menegaskan peran vital air sebagai penopang kehidupan. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 10:
Baca Juga: Hujan Deras Landa Sibolga, Sungai Aek Doras Meluap dan Ancaman Banjir Mengintai هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَLatin:Huwalladzī anzala minas-samā'i mā'an lakum minhu syarābun wa minhu syajarun fīhi tusīmūn.
Artinya: "Dialah yang telah menurunkan air dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuhan yang dengannya kamu menggembalakan ternakmu."(QS. An-Nahl: 10)
Ayat ini menegaskan bahwa hujan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia, mulai dari air minum hingga keberlangsungan sektor pertanian dan peternakan.
Hujan sebagai Rahmat Allah SWT
Selain sebagai sumber kehidupan, hujan juga dipandang sebagai wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dalam Surah Asy-Syura ayat 28, Allah SWT berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
Latin:Wa huwalladzī yunazzilul-ghaitha mim ba'di mā qanathū wa yansyuru raḥmatah, wa huwal-waliyyul-ḥamīd.
Artinya: "Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji."(QS. Asy-Syura: 28)
Ayat ini menggambarkan hujan sebagai rahmat yang sering datang di saat manusia berada dalam kesulitan.