BANDA ACEH–Teoekologi merupakan gabungan dari dua kata: teo, yang berarti Tuhan, dan logi, yang berarti ilmu.
Secara sederhana, teoekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara Tuhan dan lingkungan.
Pendekatan ini menekankan bahwa isu lingkungan bukan hanya persoalan teknis atau ilmiah, melainkan juga terkait dengan nilai-nilai ketuhanan dan tanggung jawab spiritual manusia terhadap alam.
Baca Juga: Satgas Yonif 741/GN Pos Dafala Terima Penyerahan Senjata dan Munisi dari Masyarakat Perbatasan Sejarah pemikiran manusia menunjukkan perjalanan dari kepercayaan mitos menuju rasionalitas. Dalam tradisi Yunani, manusia awalnya mempercayai kekuatan alam seperti bintang, laut, dan langit.
Seiring waktu, manusia beralih dari mitos menuju logos—berpikir secara rasional dan ilmiah. Kata logos sendiri memiliki makna ganda: ilmu pengetahuan dan akal sehat.
Islam telah mengintegrasikan nilai ketuhanan dan akal sejak awal. Dalam Al-Qur'an, surat Al-Baqarah ayat 30, Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi.
Para ulama tafsir menjelaskan, makna khalifah mencakup tanggung jawab menjaga, mengelola, dan melestarikan alam sebaik-baiknya.
Di era modern, kerusakan lingkungan menjadi isu global akibat gaya hidup konsumtif, eksploitasi sumber daya alam, dan pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Padahal, Al-Qur'an dalam surat Ar-Rahman ayat 7–9 menegaskan:
"Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia ciptakan keseimbangan (mizan). Supaya kamu jangan merusak keseimbangan itu."
Ayat ini menekankan pentingnya keseimbangan alam. Pelanggaran terhadap keseimbangan tersebut akan membawa kehancuran bagi manusia dan makhluk lain.
Konsep pelestarian alam juga tercermin dalam budaya lokal dan global. Di Indonesia, bumi disebut "Ibu Pertiwi", di Filipina dikenal sebagai Inang Bayan, dan dalam istilah internasional dikenal sebagai Mother Earth atau Motherland.
Bumi diperlakukan seperti seorang ibu—memberi, merawat, dan harus dilindungi.