Deli Serdang – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Hanif Faisol Nurofiq, mengajak seluruh pihak untuk berperan aktif dalam rehabilitasi mangrove di Indonesia. Langkah bersama dinilai akan mempercepat pemulihan ekosistem mangrove yang krusial bagi keberlanjutan lingkungan.
Pernyataan ini disampaikan Hanif setelah melakukan penanaman mangrove di lahan seluas 25 hektare bersama PT Freeport Indonesia di Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Sabtu (30/11/2024).
Hanif menyebut bahwa Indonesia memiliki 3,4 juta hektare mangrove, menjadikannya negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia. “Indonesia memiliki 23 persen populasi mangrove dunia, dengan luas 3,4 juta hektare. Selain itu, ada 700 ribu hektare area potensial mangrove yang sebelumnya rusak atau berubah fungsi, dan ini menjadi target pemulihan kami,” ungkap Hanif.
Ekosistem mangrove disebut memiliki peran yang sangat penting bagi lingkungan global, termasuk dalam penyerapan karbon. Hanif menjelaskan bahwa kandungan karbon di tanah mangrove lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan hutan mineral.
“Mangrove ini ekosistem yang sangat spesial. Vegetasinya sama seperti hutan lain, tapi kandungan karbon pada tanah mangrove jauh lebih tinggi karena karakter lumpurnya. Hal ini yang membuat mangrove penting untuk mitigasi perubahan iklim,” ujar Hanif.
Namun, ia mengingatkan bahwa kerusakan pada habitat mangrove membutuhkan waktu ratusan tahun untuk pulih sepenuhnya. “Pohon mangrove bisa kita tanam, tapi fungsi tanahnya yang unik tidak tergantikan. Oleh sebab itu, kita harus menjaga ekosistem ini agar tidak rusak,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, Hanif menekankan perlunya kolaborasi berbagai pihak, termasuk perusahaan swasta, pemerintah daerah, hingga masyarakat. “Seperti PT Freeport Indonesia yang menanam 25 hektare mangrove, saya berharap lebih banyak pihak berkontribusi untuk rehabilitasi dan restorasi mangrove di seluruh Indonesia,” katanya.
Di Sumatera Utara, Hanif menjelaskan bahwa terdapat sekitar 100 ribu hektare mangrove dengan sebagian besar memiliki vegetasi jarang. Oleh karena itu, prioritas pemulihan diarahkan pada area yang masih memungkinkan untuk direhabilitasi.
“Sumatera Utara memiliki existing mangrove hampir 100 ribu hektare, tetapi didominasi vegetasi jarang. Jadi, langkah awal kita adalah memulihkan area celah-celah mangrove ini untuk meningkatkan densitasnya,” papar Hanif.
Hanif menambahkan bahwa ekosistem mangrove Indonesia telah menjadi perhatian dunia karena perannya yang besar dalam ekologi global. “Mangrove sangat penting untuk menjaga keberlanjutan habitat global. Banyak kepentingan internasional yang mendukung upaya restorasi mangrove di Indonesia,” katanya.
Hanif mengakhiri keterangannya dengan menyerukan seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta menjaga dan memulihkan mangrove. Ia berharap kerja keras bersama dapat mempercepat target rehabilitasi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Perlu kerja keras bersama untuk merehabilitasi dan merestorasi mangrove. Semoga kolaborasi ini terus berkembang dan menjadikan ekosistem mangrove Indonesia lebih kuat,” pungkasnya.
(JOHANSIRAIT)