Roma, Italia – Dalam sebuah aksi spiritual penuh makna, Kardinal Matteo Zuppi, Presiden Konferensi Waligereja Italia, memimpin doa selama tujuh jam untuk mengenang ribuan anak-anak yang menjadi korban konflik berkepanjangan di Gaza.
Aksi ini berlangsung di Monte Sole, sebuah tempat bersejarah yang dulunya menjadi saksi pembantaian tragis oleh pasukan Nazi tahun 1944.
Doa ini dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan yang bersatu dalam keheningan dan refleksi, sembari mendengarkan pembacaan nama lebih dari 4.000 anak yang tewas akibat konflik bersenjata di Palestina. Dokumen nama-nama tersebut terdiri dari 469 halaman dan dibacakan satu per satu selama tujuh jam penuh, menciptakan suasana penuh haru dan duka mendalam.
"Kota ini adalah tempat untuk mengenang dan memperhatikan para korban. Dari sebuah lokasi yang dahulu menjadi lambang kekejaman, kini menjadi ruang pengingat dan harapan akan dunia yang lebih damai," ucap Kardinal Zuppi dalam doanya.
Pemilihan lokasi Monte Sole bukan tanpa alasan. Tempat ini dipilih untuk menggugah kesadaran dunia bahwa sejarah kelam bisa menjadi landasan untuk membangun harapan dan perdamaian.
Krisis Kemanusiaan di Gaza
Menurut laporan Famine Early Warning Systems Network (FEWS NET) pada Agustus 2025, Gaza resmi dinyatakan dalam kondisi kelaparan. Sebanyak 20% rumah tangga mengalami kekurangan pangan ekstrem, dan 30% anak-anak menderita malnutrisi akut.
Seruan untuk Dunia
Zuppi dan para peserta tak hanya berdoa, tetapi juga menyerukan tindakan nyata dari komunitas internasional. Mereka menekankan bahwa dialog, diplomasi, dan empati harus menjadi prioritas utama dalam menyelesaikan konflik ini.
"Doa ini adalah seruan kepada dunia agar tidak tinggal diam. Anak-anak Gaza bukan hanya statistik—mereka adalah wajah-wajah manusia yang hilang karena kekerasan," tutup Zuppi.*
(oz/j006)