BITVONLINE.COM -Anak-anak Indonesia masih menghadapi kesulitan dalam mata pelajaran matematika, meski soal-soal yang diberikan terbilang sederhana. Sebuah video reaksi yang diunggah Jerome Polin di TikTok pada 7 November 2024 menunjukkan, bahkan siswa SMA pun kesulitan menjawab soal matematika dasar seperti “16 dibagi 4” atau “24 dibagi 3.”
“Aduh sedih banget, sedih banget. Ini kelas XII IPA loh,” kata Jerome dalam video tersebut. Hal ini semakin memperlihatkan rendahnya kemampuan matematika pelajar Indonesia, yang tercermin dalam hasil tes PISA (Program for International Student Assessment) 2022.
Berdasarkan laporan PISA 2022, Indonesia menempati peringkat ke-70 dari 81 negara dengan skor 366 untuk matematika. PISA merupakan evaluasi internasional yang mengukur kemampuan siswa dalam literasi membaca, matematika, dan sains. Meskipun demikian, Indonesia mendapat nilai lebih dalam bidang kesehatan mental, yang berada di atas rata-rata negara-negara OECD.
Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan dalam pencapaian akademik Indonesia, yang harus segera diatasi dengan pendekatan yang lebih baik. Salah satunya adalah dengan memperkenalkan matematika sejak dini. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengungkapkan bahwa matematika akan mulai dikenalkan di tingkat Taman Kanak-kanak (TK). Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang berharap agar pembelajaran matematika diperbaiki dan bisa diterima dengan mudah oleh pelajar.
Mu’ti menjelaskan bahwa pendekatan yang akan digunakan dalam pendidikan matematika adalah pembelajaran mendalam atau deep learning, yang lebih menekankan pada pemahaman mendalam dan holistik terhadap materi pelajaran, bukan sekadar menghafal untuk ujian.
“Bagaimana cara berinteraksi dengan emosional itu yang menjadi bagian penting dari mengembangkan apa yang saya sebut dengan joyful learning,” kata Mu’ti. Ia juga menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar siswa bisa merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar. Hal ini, menurutnya, penting agar proses pembelajaran bisa lebih efektif dan menyenangkan.
Selain itu, Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian, menambahkan bahwa cara untuk membuat matematika terasa seru dan menyenangkan sejak di TK adalah kunci untuk menghilangkan persepsi negatif tentang pelajaran ini. Dengan demikian, siswa tidak akan merasa cemas atau trauma terhadap matematika, yang bisa mengganggu proses belajar mereka secara keseluruhan.
Dengan pendekatan yang lebih manusiawi, yang memperhatikan baik aspek akademik maupun kesehatan mental siswa, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencetak generasi pelajar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara emosional.
(N/014)