SUMUT -Keprihatinan terus menghantui wilayah Sumatera Utara (Sumut) pada bulan April ini seiring dengan fluktuasi harga kebutuhan pokok yang menjadi sorotan masyarakat. Meskipun beberapa komoditas mengalami penurunan harga, namun hal ini belum mampu meredam ketidakstabilan harga pada beberapa komoditas vital seperti gula pasir, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, dan bahkan harga emas.
Pemerhati ekonomi dan para analis mengungkapkan bahwa situasi harga yang dinamis ini menjadi sorotan utama, terutama dalam konteks menghadapi deflasi. Beberapa komoditas mencatatkan kenaikan harga yang signifikan, seperti bawang merah yang melonjak tajam seiring dengan gangguan cuaca, dan harga emas yang dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global yang kurang stabil.
Salah satu aspek yang menjadi fokus adalah kenaikan harga emas, yang tak hanya dipicu oleh faktor internal namun juga dampak dari peristiwa internasional, khususnya terkait perkembangan perang di Timur Tengah. Hal ini menggarisbawahi bahwa fluktuasi harga di Sumut tidak hanya terkait dengan faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika global yang kompleks.
Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami penurunan harga yang cukup signifikan seperti cabai merah, cabai rawit, daging ayam, dan daging sapi. Namun demikian, penurunan ini belum mampu memberikan dampak yang cukup signifikan untuk meredam tekanan inflasi.
Ketua Pemantau Pangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyoroti bahwa gangguan cuaca menjadi faktor utama dalam dinamika harga bawang merah. Disamping itu, tingginya permintaan dari luar wilayah Sumut terhadap beberapa komoditas tertentu juga turut memberikan tekanan terhadap harga.
Namun demikian, kondisi ini memberikan keuntungan bagi para petani setempat. Meskipun ada penurunan produksi akibat cuaca yang kurang bersahabat, namun harga yang cenderung stabil atau naik memberikan dampak positif pada pendapatan petani.
Tantangan pengendalian inflasi di Sumut pada bulan ini menjadi semakin berat dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung produksi optimal. Hal ini juga menjadi cerminan dari kondisi nasional yang serupa, dimana tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama bagi pemerintah.
Dalam konteks ini, pengelolaan stok pangan strategis dan pengendalian harga menjadi agenda penting yang harus terus diupayakan. Langkah-langkah strategis dalam menghadapi dinamika harga perlu ditingkatkan, baik dari sisi regulasi maupun pengawasan terhadap pasar.
Meskipun ekspektasi deflasi pada bulan April belum sepenuhnya tercapai sesuai harapan, namun langkah-langkah adaptif dan responsif diharapkan mampu mengendalikan fluktuasi harga serta mendorong stabilitas harga ke depannya. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pelaku pasar, dan masyarakat untuk menjaga stabilitas ekonomi yang berkelanjutan.
(N/014)