BALI -Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pentingnya World Water Forum ke-10 sebagai panggung strategis untuk merevitalisasi tindakan nyata dan komitmen bersama dalam mengelola sumber daya air secara terintegrasi. Dalam pidatonya di KTT tersebut, Jokowi mengungkapkan tiga prinsip dasar yang konsisten didorong oleh Indonesia dalam pengelolaan air.
Pertama, adalah prinsip solidaritas dan inklusivitas untuk mencapai solusi bersama, terutama bagi negara-negara pulau kecil dan yang mengalami kelangkaan air. Kedua, adalah pemberdayaan diplomasi air untuk kerja sama konkret dan inovatif, serta menjauhi persaingan dalam pengelolaan air lintas batas. Ketiga, adalah penguatan kepemimpinan politik sebagai kunci keberhasilan berbagai kerja sama menuju ketahanan air berkelanjutan.
Indonesia juga mengangkat empat inisiatif baru, termasuk penetapan World Lake Day, pendirian Centre of Excellence di Asia Pasifik, tata kelola air berkelanjutan di negara-negara pulau kecil, dan penggalangan proyek air.
Dalam pidatonya, Jokowi menekankan bahwa air bukan sekadar produk alam, tetapi merupakan produk kalibrasi yang mempersatukan, sehingga memerlukan upaya bersama untuk menjaganya. Dia juga mengingatkan bahwa air memiliki peran sentral bagi dunia, di mana kekurangan air bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi dan bahkan memicu konflik serta bencana.
Pemerintah Indonesia telah menunjukkan perhatiannya terhadap isu ketahanan air dengan memperkuat infrastruktur air, termasuk pembangunan 42 bendungan dalam 10 tahun terakhir. Selain itu, pembangunan jaringan irigasi, pengendali banjir, dan pengamanan pantai juga menjadi prioritas, bersama dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Cirata, yang merupakan PLTS terbesar di ASEAN.
Dengan komitmen yang kuat dan inisiatif yang berani, Indonesia bersama dengan negara-negara lain di dunia berupaya untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air demi kesejahteraan manusia dan planet ini.
(N/014)