Tidak Ada ‘Perintah Presiden’ dalam Kasus Korupsi SYL!

BITVonline.com - Kamis, 13 Juni 2024 09:31 WIB

Warning: getimagesize(): SSL operation failed with code 1. OpenSSL Error messages: error:0A000438:SSL routines::tlsv1 alert internal error in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(): Failed to enable crypto in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://bitvonline.com/cdn/uploads/images/2024/06/ac2e8deb-9223-44a2-badd-0575068007c7_169-1.jpeg): Failed to open stream: operation failed in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 172

JAKARTA -Pernyataan mantan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), yang mengaitkan ‘perintah Presiden’ dalam sidang kasus korupsi menuai bantahan tegas dari Tafsus Presiden Bidang Hukum, Dini Purwono. Dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis (13/6/2024), Dini mengklarifikasi bahwa tidak pernah ada instruksi dari Presiden Joko Widodo kepada menteri untuk melakukan penarikan uang dari bawahan.

“Tidak benar ada instruksi Presiden dalam rapat kabinet kepada para menteri/kepala lembaga untuk menarik uang dari bawahan atau staf dalam penanggulangan krisis pangan akibat pandemi dan el nino,” tegas Dini kepada wartawan.

Dini menegaskan bahwa setiap perintah yang diberikan oleh Presiden Jokowi selalu berada dalam koridor hukum yang berlaku. Jokowi tidak pernah memberikan instruksi kepada menteri-menteri untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan hukum.

“Setiap instruksi presiden dan penggunaan diskresi oleh para pembantu presiden untuk menanggulangi suatu permasalahan haruslah dimaknai dan dibatasi sesuai prosedur diskresi yang diatur dalam UU Administrasi Pemerintahan yang tidak boleh melampaui wewenang menteri/kepala lembaga, serta dilaporkan kepada Presiden selaku atasannya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dini menegaskan bahwa penarikan uang oleh seorang menteri dari bawahannya merupakan tindakan yang mencerminkan kepentingan pribadi, dan hal tersebut termasuk dalam ranah tindak pidana korupsi yang harus dipertanggungjawabkan secara personal.

Sidang kasus korupsi yang melibatkan SYL memang tengah menjadi sorotan. SYL didakwa menerima gratifikasi dan memeras anak buahnya dengan nilai total mencapai Rp 44,5 miliar. Jaksa menuding bahwa SYL memerintahkan stafnya untuk mengumpulkan uang dari pejabat Eselon I di Kementerian Pertanian untuk kepentingan pribadinya.

Dalam proses persidangan, para saksi mengungkapkan bahwa mereka diminta untuk mengumpulkan uang dalam jumlah besar untuk berbagai keperluan pribadi SYL, termasuk skincare, perjalanan ke luar negeri, pembelian mobil, hingga pesta ulang tahun. Mereka juga mengaku mendapat ancaman pencopotan dari jabatan jika menolak permintaan SYL.

Dengan bantahan tegas dari Tafsus Presiden Bidang Hukum, perdebatan terkait kasus korupsi SYL semakin memanas, sementara masyarakat menantikan keadilan dan keputusan yang adil dari persidangan yang sedang berlangsung.

(N/014)

Editor
:
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Agama

PT Agincourt Resources Diberi Izin Beroperasi Kembali oleh KLH Pasca Kasus Banjir Sumatera

Agama

Lima Hari Setelah Penyiraman, Pelaku Serangan Air Keras ke Andrie Yunus Belum Diketahui

Agama

Ledakan Terjadi di Masjid Raya Pesona Jember, Polisi Lakukan Olah TKP

Agama

COO Danantara: Utang Whoosh Sudah Beres, Tinggal Tunggu Menko & Menkeu

Agama

RSCM Pastikan Andrie Yunus Tidak dalam Kondisi Mengancam Jiwa, Pemulihan Mata Terus Berlanjut

Agama

KPK Lanjutkan Penyidikan, Gus Alex Eks Stafsus Yaqut Akan Diperiksa Hari Ini